Tafsir Fi Zhilal Al-Qur'an (Di Bawah Naungan Al-Qur'an) merupakan salah satu karya tafsir abad ke-20 paling monumental dan ber pengaruh kuat di seluruh dunia Islam. Disusun oleh seorang pemikir, sastrawan, dan tokoh pergerakan asal Mesir, Sayyid Qutb (1906–1966 M), kitab yang terdiri dari 6 volume besar ini menyajikan pengalaman spiritual dan penghayatan personal yang sangat mendalam terhadap petunjuk Al-Qur'an.
Lahirnya Fi Zhilal Al-Qur'an diwarnai oleh rekam jejak sejarah yang sangat intensif dan penuh ujian. Sebagian besar lembaran kitab ini ditulis dan disempurnakan ketika Sayyid Qutb berada di balik jeruji besi sebagai tahanan politik di Mesir pada era 1950-an hingga 1960-an. Berada dalam situasi tekanan fisik dan keterasingan dari dunia luar, beliau merenungkan ayat demi ayat Al-Qur'an bukan sekadar sebagai objek kajian akademis, melainkan sebagai pedoman hidup nyata yang membimbing dan memberi kedamaian di tengah kegelapan ujian hidup.
Dalam pengkategorian karya tafsir, Fi Zhilal Al-Qur'an dikelompokkan ke dalam corak adabi ijtima'i (sastra budaya dan kemasyarakatan) dengan sentuhan sastra-sufistik yang sangat kental. Menggunakan metode tahlili (analitis) yang disusun runtut sesuai mushaf Usmani, Sayyid Qutb menafsirkan Al-Qur'an melalui pendekatan sastra tinggi (harakah adabiyyah). Beliau memandang Al-Qur'an sebagai satu kesatuan yang utuh, bernyawa, dan beritme, di mana setiap surah memiliki karakter (syakhsiyyah) serta tema sentral tersendiri yang mengikat seluruh ayat di dalamnya.
Salah satu ciri khas utama dari Fi Zhilal Al-Qur'an adalah gaya bahasanya yang sangat puitis, komunikatif, dan sarat akan emosi jiwa. Penulis tidak memfokuskan porsi pembahasannya pada perdebatan rumit hukum fikih, kaidah tata bahasa (i'rab), atau perbedaan mazhab klasik. Sebaliknya, Sayyid Qutb mengarahkan pembaca untuk merasakan langsung getaran keagungan Al-Qur'an, membangun kesadaran tauhid yang murni, serta mengaplikasikan nilai-nilainya dalam menghadapi tantangan kebudayaan dan ideologi modern.
Fi Zhilal Al-Qur'an telah diterjemahkan ke dalam pelbagai bahasa dunia dan menjadi bacaan wajib bagi para pengkaji studi Al-Qur'an, sastra Arab, serta gerakan pemikiran Islam kontemporer. Karya ini memberikan cara pandang baru bahwa membaca Al-Qur'an seharusnya menjadi sebuah perjalanan spiritual yang mampu mengubah cara berpikir, meresapi keindahan pesan Ilahi, dan menggerakkan jiwa untuk hidup nyata di bawah naungan wahyu.
