Tafsir Al-Jawahir fi Tafsir Al-Qur'an Al-Karim, atau yang lebih dikenal secara ringkas sebagai Tafsir Al-Jawahir, merupakan salah satu karya tafsir paling fenomenal dan kontroversial dalam panggung pemikiran Islam modern. Disusun oleh seorang ulama sekaligus ilmuwan asal Mesir, Syaikh Thanthawi Jauhari (1862–1940 M), kitab yang terdiri dari 26 jilid ini lahir dari keprihatinan mendalam atas ketertinggalan umat Islam di bidang ilmu pengetahuan dan sains dibandingkan dunia Barat.
Syaikh Thanthawi Jauhari mendapati kenyataan bahwa literatur tafsir klasik sangat mendominasi pembahasan terkait hukum fikih, tata bahasa Arab, dan isu teologi. Padahal, menurut kalkulasi beliau, ayat-ayat Al-Qur'an yang membahas tentang hukum fikih hanya berkisar beberapa ratus ayat saja, sementara terdapat lebih dari 750 ayat yang secara eksplisit mendorong manusia untuk mengamati, meneliti, dan memikirkan keajaiban alam semesta (ayat-ayat kauniyah). Berangkat dari kesadaran inilah, beliau menulis Tafsir Al-Jawahir untuk membangkitkan kesadaran ilmiah umat Islam agar kembali menguasai sains dan keanekaragaman ilmu alam.
Dalam pengkategorian corak penafsiran Al-Qur'an, Tafsir Al-Jawahir menduduki posisi sebagai pelopor dan representasi utama dari corak 'Ilmi (sains dan keilmuan). Menggunakan metode tahlili (analitis) yang mengikuti susunan mushaf Usmani, Thanthawi Jauhari menguraikan ayat-ayat Al-Qur'an dengan mengintegrasikan penemu-penemuan sains modern pada zamannya—mulai dari astronomi, biologi, geologi, fisika, kedokteran, hingga botani. Beliau berusaha membuktikan bahwa Al-Qur'an tidak pernah bertentangan dengan fakta-fakta ilmiah, melainkan justru menjadi sumber inspirasi bagi penemuan ilmu pengetahuan.
Salah satu keistimewaan yang sangat mencolok dari Tafsir Al-Jawahir—yang hampir tidak ditemukan dalam kitab-kitab tafsir lainnya—adalah penggunaan ilustrasi visual. Kitab ini dilengkapi dengan berbagai foto, ilustrasi, gambar anatomi, peta geografi, serta diagram flora dan fauna untuk memperjelas pembahasan ayat-ayat kauniyah. Langkah revolusioner ini diambil penulis agar pembaca dapat menyaksikan secara langsung keindahan dan keagungan ciptaan Allah SWT melalui lembaran-lembaran tafsirnya.
Kehadiran Tafsir Al-Jawahir memicu diskusi hangat di kalangan para ulama dan akademisi studi Al-Qur'an. Di satu sisi, karya ini dipuji karena keberaniannya mendobrak kebekuan pemikiran dan membakar semangat literasi sains umat Islam. Di sisi lain, sebagian ulama memberikan kritik karena menganggap penulis terkadang terlalu memaksakan penafsiran ayat Al-Qur'an agar cocok dengan teori-teori sains yang masih bersifat sementara.Meski demikian, Tafsir Al-Jawahir tetap diakui sebagai karya besar yang sangat berharga. Kitab ini menjadi rujukan penting bagi siapa saja yang ingin mengkaji relasi antara Al-Qur'an dan ilmu pengetahuan modern, serta memahami bagaimana kemajuan sains dapat dijadikan sarana untuk memperkuat keimanan kepada Sang Pencipta.
