Tafsir Ruh al-Ma'ani fi Tafsir al-Qur'an al-'Azim wa al-Sab' al-Mathani, atau yang lebih dikenal secara ringkas sebagai Tafsir Ruh Al-Ma'ani, merupakan salah satu karya tafsir terbesar dan paling komprehensif yang lahir di era akhir keemasan tradisi keilmuan Islam. Disusun oleh mufti agung Baghdad, Abu al-Thana' Shihab al-Din al-Sayyid Mahmud al-Alusi al-Baghdadi (1802–1854 M), kitab sebanyak 30 jilid ini diakui sebagai muara yang menampung serta menyempurnakan pelbagai disiplin ilmu tafsir terdahulu.
Secara metodologis, Ruh Al-Ma'ani disusun menggunakan metode tahlili (analitis) runtut sesuai susunan mushaf Usmani. Dalam mengurai setiap ayat, Al-Alusi menerapkan kedalaman analisis kebahasaan (linguistik) yang sangat mendetail, mencakup tata bahasa (i'rab), morfologi (saraf), retorika (balaghah), serta variasi bacaan (qira'at). Penulis memadukan pendekatan bil-ma'tsur (riwayat-riwayat dari Nabi, sahabat, dan tabi'in) dengan pendekatan bil-ra'yi (ijtihad rasional yang matang), sembari menyaring riwayat-riwayat lemah dan isra'iliyyat secara kritis.
Dalam pengkategorian karya tafsir, Ruh Al-Ma'ani memiliki keunikan tersendiri karena memadukan beberapa corak keilmuan sekaligus:
1. Corak Kebahasaan dan Fikih: Al-Alusi mengupas aspek kebahasaan dan struktur sastra Al-Qur'an secara mendalam. Di samping itu, beliau yang bermazhab Hanafi (namun sering berijtihad independen) memaparkan argumentasi fikih lintas mazhab secara luas dan objektif.
2. Corak Teologi (Kalami): Sebagai ulama yang berpegang pada akidah Ahlussunnah, beliau aktif mengulas isu-isu teologis dan memberikan bantahan rasional terhadap pandangan kelompok teologi lain.
3. Corak Ishari (Sufistik/Isyarat Jiwa): Salah satu keistimewaan paling menonjol dari Ruh Al-Ma'ani adalah penyajian tafsir ishari di akhir pembahasan ayat. Setelah mengulas makna eksplisit (zahir) secara akademis dan lugas, Al-Alusi menyajikan penafsiran subliminal (isyarat penafsiran sufi) tanpa mengabaikan batas-batas syariat.
Kegeniusan Al-Alusi terlihat dari kemampuannya merangkum serta mengomparasikan pandangan para mufasir besar terdahulu, seperti Al-Thabari, Al-Zamakhshari, Al-Razi, Al-Qurthubi, dan Ibn Kathir, lalu memberikan evaluasi (tarjih) atas pendapat yang paling kuat. Penulisan yang rapi, berbobot, dan sarat akan argumentasi Ilmiah menjadikan kitab ini dijuluki oleh banyak ulama sebagai penutup atau puncak dari era klasik penafsiran Al-Qur'an.
Tafsir Ruh Al-Ma'ani merupakan rujukan wajib tingkat lanjut bagi para akademisi, peneliti, dan ulama studi Islam. Kehadirannya menyajikan gambaran utuh bagaimana keindahan bahasa, kedalaman hukum syariat, kebenaran akidah, dan kehalusan rasa spiritualitas dapat menyatu secara harmonis dalam meresapi pesan-pesan Al-Qur'an.
